Jangan jangan jangan jangan !

Agama mengajarkan kita untuk berbuat baik dengan sesama dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan tentunya. Kita diajarkan bahwa menolong orang lain adalah tindakan yang terpuji. Bahkan ada pepatah mengatakan bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan diatas. Ketika menolong orang lain kita juga diajarkan untuk tidak boleh membeda-bedakan dari suku, ras, atau golongan tertentu saja. Tapi akhir-akhir ini banyak fenomena modus penipuan atau bisa dibilang kejahatan dengan cara pura-pura minta tolong.

Seperti kejadian yang dialami oleh teman kos beberapa hari yang lalu. Ceritanya teman ini mau membeli makan siang, di tengah jalan tiba-tiba didekati oleh sebuah motor dengan dua orang penumpang, seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya. Awalnya mereka bertanya tentang alamat seorang teman yang katanya baru pindah disekitar kompleks tersebut. Dan berniat meminjam handphone untuk menghubungi temannya tersebut, mereka beralasan handphone mereka hilang. Dengan tanpa curiga dipinjamkanlah handphone tersebut dengan terlebih dahulu kembali ke kos karena pada saat itu dia sedang tidak membawa handphone-nya. Dan singkatnya handphone itu dibawa lari dan teman saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Ini kejadian yang dialami teman saya yang lain. Suatu hari teman saya sedang menunggu bis yang biasa dia tumpangi. Tiba-tiba didekati oleh seorang nenek yang mengaku sedang dalam perjalanan dan kehabisan uang. Dia meminta uang sekedar untuk sampai terminal karena anaknya sudah menunggu disana. Tapi dilain hari nenek ini terlihat di bis yang ditumpangi teman saya sedang mendekati target lain.

Terdengar juga dengan modus menggunakan anak-anak sebagai ‘pancingan’ minta dicarikan alamat, kemudian korban ditunjukkan ke suatu tempat. Di sana sudah menunggu orang dewasa lain yang siap merampas harta benda korban.

Mendengar cerita-cerita tersebut bisa dilihat bahwa rentang usia orang-orang yang menggunakan modus ini sangatlah luas, dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan manula. Sangat miris melihat anak-anak di eksploitasi untuk melakukan kejahatan kejahatan. Dan sedih melihat para manula yang seharusnya istirahat dirumah bersama cucu-cucunya harus berbuat demikian.

Sebagian dari mereka murni melakukan kejahatan untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas, sebagian lagi mungkin karena‘merasa’ tidak ada pilihan lain. Mereka mungkin salah tapi jangan-jangan secara tidak langsung kita punya andil. Karena ketidakpedulian kita dengan lingkungan disekitar. Rasa simpati dan empati yang sudah luntur melihat kemiskianan didepan mata. Kehidupan hedonis dan wah yang kita pamerkan memaksa mereka untuk membuat pilihan yang salah.

Mari kita lihat diri kita ^__^.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: