CIO: Selalu Dianggap Penting Tetapi Belum Mendapat Posisi Penting

G-CIO (Government Chief Information Officer) adalah suatu jabatan tertinggi pengelola (manajemen) TIK (teknologi informasi dan komunikasi) di instansi pemerintahan pusat ataupun daerah. Di seminar-seminar, paper-paper, majalah-majalah dan di berbagai forum diskusi tentang penggunaan TIK di pemerintahan (e-Government), G-CIO selalu dianggap sebagai posisi penting. Namun demikian, sampai hari ini jabatan G-CIO belum mendapatkan posisi penting dalam struktur organisasi di pemerintahan (kementrian departemen maupun non-departemen, lembaga pemerintahan non-departemen, pemerintah daerah provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota). Hal ini bisa dilihat dari eselon bagi posisi G-CIO di pemerintahan.

Fungsi G-CIO di pemerintahan selalu dianggap strategis, tetapi posisinya dalam organisasi struktural belum mendapat otoritas yang menjalankan peran / fungsi stategis. G-CIO mempunyai eselon II kebawah (III, IV atau tanpa eselon). Mengapa demikian ?

Menurut saya – salah satu bebabnya – G-CIO belum bisa menunjukan / membuktikan peran yang clear dan meyakinkan di mata petinggi di instansi pemerintahan. Para G-CIO masih berbicara dalam bahasa / terminologi IT yang belum dimengerti oleh para pimpinan di pemerintahan. Menurut saya, G-CIO harus bisa meyakinkan pimpinan bahwa TIK bisa digunakan untuk meningkatkan : pendapatan daerah, peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan penggunanya (dalam hal ini masyarakat luas).  Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan orientasi pemikiran dan tujuan antara pimpinan pemerintahan dan G-CIO.

Oleh sebab itu G-CIO harus memainkan peran sebagai: 1) leader, 2) komunikator dan 3) educator. Peran sebagai leader diperlukan agar seorang G-CIO bisa menjadi pengarah (pemberi visi) dan panutan dalam hal pemanfaatan TIK di pemerintahan. Peran komunikator dibutuhkan agar proses penyampaian visi dan manfaat TIK kepada pimpinan dapat dilakukan dengan baik. Peran educator dibutuhkan untuk mengembangkan awareness, pengetahuan dan keterampilan pimpinan maupun orang-orang disekitarnya agar bisa memahami manfaat TIK dan mendukung pemberdayaan TIK di instansi dimana G-CIO bekerja.

Ketiga peran tersebut diatas dapat dimainkan dengan baik jika seorang G-CIO mempunyai kompetensi: 1) visioner, 2) keadership skill, 3) achievement orientation, 4) communication skill, 5) developing others, 6) IT Literacy

Sumber : Suhardi’s Blog


  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: